Nanda WKS
“Wayang
Kampung Sebelah”
Mawas
Diri Menakar Berani
Oleh Nanda Eka Adi Putra
Cerita
wayang ini berawal dari seseorang yang mempromosikan dirinya kepada rakyat agar
terpilih menjadi kepala desa di desa Bangunjiwa. Kemudian permasalahan pun
terjadi. Ketua panitia marah hanya
karena bablak yang hilang dari tempat perhitungan pemilihan calon kepala desa.
Ketua
panitia menanyakan kepada petugas untuk
pemilihan calon kepala desa. Namun petugas tidak mengetahui keberadaan
bablak itu. Tak lama kemudian datang lagi petugas. Saat ketua panitia bertanya
dengan emosi , petugas itu menjawab dengan marah-marah. Ia mengatakan bahwa
bablak papan tulis itu berada di dalam rumahnya.
Setelah
itu , suara rakyat telah dihitung ,saat ketua panitia membacakan hasil perhitungan
dari pemilihan calon kapala desa, ternyata yang terpilih adalah pak Somad.
Namun di balik itu, kemenangan pak Somad adalah hasil dari sogokan uang. Tiga
petugas pelaksanaan pemilu terlibat dalam hal itu.
Dalam
penampilan Wayang Kampung Sebelah, diselingi dengan lelucon. Untuk memeriahkan
kemenangan pak Somad menjadi kepala desa baru di desa Bangunjiwa, pak Somad
menggelar acara dengan menampilkan artis
yaitu Bungkomaramarimari,Syahmarni,dan Minul daratinggi. Semua penonton
menikmatinya dengan tertawa karena tampilan yang sangat lucu dan membahana
sekali. Saat acara berlangsung, tiba-tiba ada warga yang menghentikan hiburan
tersebut, warga itu marah-marah karena kemenangan pak Somad itu tidak layak.
Namun , warga yang lain tidak peduli, ada yang lebih memilih hiburan. Perbedaan
pendapat itu membuat warga rusuh.
Dari
penampilan wayang tersebut dapat ditarik pesan bahwa kita sebagai manusia harus
mawas diri untuk diri kita sendiri, keluarga , masyarakat dan Negara. Bersatu
untuk Negara Indonesia yang lebih baik dan maju.
Komentar
Posting Komentar