Mengancam Kenangan
Mengancam
Kenangan
Drama yang berjudul “Mengancam
Kenangan” di tampilkan oleh Teater Tikar.
Dalam drama ini ada 5 tokoh,yaitu nyonya,lelaki,wanita dan debu- debu. Cerita
ini diawali oleh seorang wanita yang bertokoh sebagai “nyonya” sedang
membersihkan debu figura yang ada di meja-meja dengan memukul sapu lidi di
atasnya.Pada saat itu berlatar di ruang tamu dan masih pagi sekali. Saat nyonya sedang
menyendiri meratapi nasib, debu di sekitarnya mulai bersahut-sahut ...
“Mengapa kau membuang-buang waktumu hanya dengan menyapu teras rumahmu saja
nyonya” debu mulai berkata
“Nyonya . . . . tidak kah kau lelah menyapu setiap
pagi”tanya debu yang lain
“Nyonya, kenapa kau selalu membersihkan
figura-figura yang tidak bisa berbicara itu,lebih baik kau bercerita padaku,aku
bisa mendengarkan dengan baik daripada figura-figura itu” ucap debu
“Aku tidak ingin di dengarkan,dan juga tidak ada
yang perlu di perdengarkan. Apalagi yang harus aku ceritakan,jika seisi rumah
ini sudah tau ceritanya” jawab nyonya.
Lalu suara rusuh dari debu-debu
yang cerewet itu menggetarkan seluruh ruangan rumah. Nyonya hanya diam
mendengarkan suara-suara bising dari debu-debu yang mengingatkan kenangan yang
terdahulu.
Tak lama kemudian, menceritakan
tentang seorang laki-laki dan wanita yang saling bertengkar. Keduanya berada dalam
kegelapan masa lalu yang suram.Selalu teringat masa lalu yang mana lelaki di
tindas oleh wanita dan begitu juga dengan wanita yang ditindas oleh laki-laki.
Dalam cerita tersebut, seorang
laki-laki mencari-cari bayangan wanitanya, tapi sangat susah sekali untuk di
temukan. Si wanita itu marah dan tak ingin dia di temukan,ia tak ingin seperti
dulu lagi yang akhirnya akan menderita. Wanita itu berharap agar lelaki itu
tidak menemukannya,tapi laki-laki itu terus mencari dan mencari. Sampai
akhirnya wanita itu lelah dan memilih untuk diam dan hanya menyaksikan
lelakinya. Lalu laki-laki itupun akhirnya melihat dan memeluk erat bayangan
abu-abu dari wanitanya itu.
Gemuruh debu-debu itu pun kembali
menggetarkan rumah. Kali ini entah apa yang akan diceritakan lagi oleh
debu-debu itu, entah kenangan apalagi yang akan di putar kembali oleh debu-debu
itu . .
Saat nyonya sedang melamun, entah
apa yang dipikirkan, tatapannya kosong. Tak lama kemudian teringat masa lalu
yang seakan-akan terjadi lagi di halaman rumahnya. Terlihat banyak anak-anak
kecil sedang bermain. Anak laki-laki dan anak-anak perempuan sedang bermain
loncat tali,dan berbagai mainan lainnya. Seakan-akan menceritakan masa kecil
yang bahagia,penuh dengan tawa. Tapi itu justru menyakiti nyonya. Ia merasa
sangat tegang dan terancam jika teringat masa lalu. Dalam cerita itu dapat
dirasakan betapa pedihnya jika teringat kenangan suram dimana nyonya ditinggal
pergi oleh suami dan anaknya. Betapa perih, bagaikan pisau tajam menyayat kulit.
Adanya bak mandi,ruang tamu
adalah simbolis gambaran-gambaran untuk memperkuat cerita. Dan latar tempat
adalah ruang tamu,karena ruang tamu berarti tempat datang dan pergi seseorang.
Entah seseorang itu akan kembali lagi atau tidak,tapi yang pasti seisi ruang
tamu itu yang menyaksikan seperti figura-figura dan debu-debu yang cerewet itu
adalah benda yang paling faham apa yang selama ini telah terjadi.
Dalam cerita ini, lelaki ditindas
wanita,wanita juga ditindas oleh laki-laki. Secara menyeluruh perempuan adalah
yang berkuasa tetapi juga perempuan adalah korban. Derita laki-laki dan derita
wanita semuanya sama. Kenangan suram yang menumpuk bukan untuk dijadikan
sayatan hati,tetapi jadikan itu sebagai unsur fondasi yang kuat dalam menata
hidup ke depan. Percayalah bahwa semua akan indah pada waktunya dan yang buruk
akan cepat berlalu.
Komentar
Posting Komentar